Aku Pernah Hidup dengan Hipertensi

Sampai Tubuhku Mengajarkan Jalan Pulang

Aku menulis ini bukan sebagai dokter.

Bukan juga sebagai ahli gizi.

Ini murni pengalaman pribadi, tentang tubuhku sendiri—dan bagaimana ia akhirnya berbicara dengan jujur setelah sekian lama kuabaikan.

Selama bertahun-tahun, hipertensi hadir seperti tamu tak diundang.

Kadang terasa, kadang tidak.

Secara angka, sering disebut “masih wajar”.

Tapi tubuh tidak bisa dibohongi: kepala berat, mudah lelah, dan ada rasa tidak tenang yang sulit dijelaskan.

Aku mencoba banyak hal.

Mengatur pola makan, berolahraga, istirahat cukup.

Semua membantu, tapi selalu terasa sementara.

Seolah ada sesuatu yang masih tidak selaras.

Sampai akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri, dengan jujur:

“Apa mungkin tubuhku tidak cocok dengan cara aku makan selama ini?”

Berhenti Berkompromi dengan Makanan

Keputusan itu tidak dramatis.

Tidak juga instan.

Aku hanya memilih satu hal: berhenti berkompromi.

Aku menjalani pola makan yang sangat sederhana:

protein hewani, tanpa karbohidrat, tanpa gula, tanpa camilan.

Banyak yang menganggap ini ekstrem.

Bagiku justru terasa logis—karena untuk pertama kalinya aku benar-benar mendengarkan respons tubuh, bukan teori atau kebiasaan umum.

Hari-hari awal tidak selalu nyaman.

Tubuh beradaptasi.

Nafsu makan berubah.

Kadang muncul rasa eneg, kadang tidak ingin makan sama sekali.

Namun perlahan, ada sesuatu yang berubah.

Tekanan Darah Turun, Tubuh Lebih Tenang

Aku mulai rutin mengukur tekanan darah.

Bukan dengan ekspektasi besar—hanya observasi.

Angkanya turun.

Lebih stabil.

Lebih tenang.

Bukan hanya soal angka.

Tidur lebih nyenyak.

Bangun pagi terasa ringan.

Kepala tidak lagi “penuh”.

Yang paling terasa adalah satu hal sederhana:

tubuhku tidak lagi melawan.

Aku tidak sedang menantang dunia medis.

Aku tidak mengklaim ini cocok untuk semua orang.

Aku hanya mencatat apa yang terjadi pada diriku sendiri:

Ketika aku berhenti memberi tubuh hal-hal yang tidak ia butuhkan, ia mulai memulihkan dirinya sendiri.

Pelajaran yang Aku Dapatkan

Dari pengalaman ini, ada beberapa hal yang kupelajari:

Tubuh tidak pernah berbohong. Kitalah yang sering mengabaikan sinyalnya. Tidak semua yang umum itu cocok untuk semua orang. Termasuk soal makanan. Kesembuhan tidak selalu tentang menambah sesuatu, kadang justru tentang mengurangi.

Aku tidak tahu berapa lama aku akan menjalani pola makan ini.

Aku tidak sedang mengejar label diet apa pun.

Aku hanya memilih satu hal: ketenangan—di tubuh dan di pikiran.

Penutup

Jika kamu membaca tulisan ini dan sedang berjuang dengan kondisi serupa,

anggap ini bukan ajakan, melainkan kesaksian pribadi.

Setiap orang punya jalan masing-masing untuk berdamai dengan tubuhnya.

Ini adalah jalanku.

Dan untuk saat ini,

aku bersyukur—karena tubuhku akhirnya mengajarkan jalan pulang.

Scroll to Top